Batu Karas : Pantai dan Bakau

24 Desember 2016 pukul 23.30, perjalanan menuju Batu Karas dimulai. Liburan yang direncanakan tanpa benar-benar terencana. Yaa kami memang berencana liburan bersama, tapi akan kemana, ngapain aja, menginap dimana tidak kami persiapkan. Ini dia kawan jalan kita kali ini : Kamila, Yuyun, Kang Umam, Kang Ricky, Jeje, dan anggota cabutan Gery.

013-1
Pukul 6 lebih sesampainya di pantai Batu Karas, kami disuguhi matahari terbit kesiangan dan agak mendung. Matahari masih malu-malu muncul, sementara pantai di sebelah timur sudah nampak ramai pengunjung. Pantai di depan tulisan Batu Karas merupakan area untuk berenang, maka tak heran sudah dipenuhi pengunjung sejak pagi.

20161225_061152
Selepas sarapan, kami mulai mencari tempat menginap. Sebelum berangkat kesini, kami menentukan tema berlibur “kemping di pantai”. Tetapi karena tidak persiapkan, dan menjelang keberangkatan tidak ada tenda yang bisa dipakai maka kami mencari penginapan saja. Bertanya ke beberapa tempat, akhirnya kami memutuskan menginap di salah satu homestay di pinggir pantai. Rumah dengan tiga kamar tidur, tiga kamar mandi, dilengkapi ruang berkumpul dan dapur sudah sangat cukup untuk menampung kami bertujuh. Setelah deal dengan pemilik rumah, kamipun langsung beristirahat. Adek lelah bang mobilan tujuh jam. (padahal tinggal duduk doang 😂)

20161225_160042
Menjelang tengah hari, Jeje sang traveller-blogger-photographer mulai bosan di homestay dan jalan-hunting sendiri. Tak lama ciwi-ciwi pun menyusul, menyisakan kang Umam, kang Riky, dan Gery yang masih berteman kasur. Berjalan lebih ke timur dari area renang, kami menemukan spot epic untuk melihat lautan luas dari atas batu karang. Di tempat itu pula ditemukan tempat kece untuk foto-foto di antara batu-batu karang. Di pantai ini terdapat tanda larangan untuk berenang, dipatuhi ya guys biar aman. Sebetulnya dari pantai itu masih ada tempat menarik yang ingin coba saya eksplor, menaiki bukit karang sepertinya lebih seru untuk menemukan tempat damai menikmati laut. Tetapi, cacing di perut mulai demo dan para penghuni kasur akan bergabung jadilah kami mencari tempat makan saja sambil merencanakan kegiatan untuk menghabisi sisa hari itu.

20161225_123855
Diputuskanlah kami akan menuju jembatan mangrove nanti. Lokasi hutan bakau terletak lebih barat dari pantai homestay kami, menuju pantai Sanghyangkala. Menuju hutan bakau, kita menyusuri garis pantai yang sepi pengunjung sehingga kami merencanakan untuk jalan pagi besok sambil melihat matahari terbit. Hati-hati jika anda kurang peka terhadap pertanda *eaaaaak*, bisa jadi nyasar seperti kami tapi untungnya tidak terlalu jauh. Jalanan menuju hutan bakau belum seluruhnya diaspal. Kita sempat ditawari naik perahu untuk menyebrang karena katanya dari area parkir mobil menuju hutan bakau harus berjalan kaki sepanjang 800 m. Kami putuskan lanjut saja naik mobil, tak lama kami menemukan gerbang menuju hutan bakau.
Benar saja, jalanan setelah gerbang semakin menyempit dan terdapat tanda area parkir. Jika malas jalan kaki, disitu terdapat pangkalan ojek kalau kami sih jalan saja. Jalanan menuju hutan bakau berupa jalan setapak di antara tambak. Jarak 800 meter bisa ditempuh sekitar 15 menit jalan santai. Dan kalau jeli sih kita bisa menemukan spot menarik untuk berfoto (emang si neng banci kamera 😛).

046
Awalnya jembatan mangrove ini agak membosankan sih hanya jembatan di antara hutan bakau yang bercabang dua. Kami menyusuri jembatan arah kanan terlebih dahulu, foto-foto, jalan sambil ngobrol ngalor ngidul, kemudian menemukan ujung jembatan dan kembali ke pertigaan. Selanjutnya kami berjalan ke arah jembatan kiri, dan menemukan hal yang sama. Jembatan sebelah kiri ini tidak sepanjang jembatan kanan, hanya di ujung jembatan ini sudah tidak ada bakau dan terdapat semacam ‘saung’ dermaga untuk beberapa perahu berlabuh. Disinilah kami akhirnya menikmati matahari terbenam.

20161225_170408

20161225_175257

Jalan-jalan hari pertama kami cukupkan sampai disitu. Setelah magrib kami kembali ke homestay, dengan rencana akan agak-ke-kota untuk isi bahan bakar kendaraan sambil cari makan malam walaupun akhirnya kami keluar homestay jam setengah 9 malam. Untuk hari kedua kami berencana ke Green Canyon, sebagian ingin body rafting tapi karena saya takut, gak bisa renang, dan ada halangan niatnya si saya menikmati Green Canyon naik perahu saja. Namun, apa yang terjadi besok let’s wait and see.
Ternyata berlibur ke pantai asik juga buat saya si manusia agak anti air 😁 cuma karena di pantai panas bangetttt (tapi kata bos Ricky lebih panas Karawang 😱) jadinya kalau nanti ke pantai logistiknya harus lebih matang, baju ganti yang banyaaak. Dan asiknya Batu Karas adalah pantainya tidak terlalu ramai walaupun sedang libur panjang. Cuma pantai pasir hitam sih jadi tidak terlihat secantik pantai berpasir putih. Sampai ketemu di cerita hari kedua!

Advertisements

4 thoughts on “Batu Karas : Pantai dan Bakau

  1. Manusia agak anti air? What? ga salah? Mandinya aja lama lho seorang Ami sampe kita terlantar untuk makan malam hiksss…
    Eh tapi liburannya seru dong…dan ga teringat sama kenangan di pantai kan? hahahaaaa…..

  2. Batu Karas, kenangan yang terlindas.
    Batu Karas, ingatan yang terlepas.
    Batu Karas, tawa yang terhempas.
    Batu Karas, saksi asa yang teramplas.

    Begitulah….
    #NumpangGalauDiBlogOrang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s