Restu

“Sah?”
“Sah!”
“Alhamdulillah…”
Ingatanku melayang pada suatu malam sekitar tiga bulan lalu. Malam-malam panjang buatku karena (boleh dibilang) aku sedang patah hati. Malam-malam merindu yang mengantarkanku pada kebutuhan untuk didengar. Kamu, Bey, seorang teman ceritaku yang mengajak bicara.
Kemudian, ceritamu pun mengalir. Katamu, kamupun pernah mengalami hal yang sama denganku. Kegalauan-kegalauan yang wajar(?) untuk usia kepala dua ++, tentang pasangan hidup.
Adalah Mas yang Allah datangkan untuk jawaban do’a-do’a panjangmu. Seorang laki-laki asing bagimu tiba-tiba hadir untuk mengakhiri penantian. Hanya sekitar satu bulan dengan pertemuan yang bisa dihitung jari hingga akhirnya kamu dan Mas memutuskan niat suci itu. Merencanakan janji atas nama cinta, tiga bulan lagi. Cinta yang begitu konkrit. Bagaimana perasaanmu waktu itu, Bey?
Sungguh, aku sulit membayangkan pada awalnya. Aku, seorang yang harus ‘membiasakan’ bertahun-tahun untuk memiliki mimpi itu walaupun berakhir kegagalan. Boleh aku iri pada keyakinanmu, Bey?
Restu orang tua, itu jelasmu. Nasihat bijak tak asing bagiku, ridho Allah ada pada ridho orang tua. Katamu, ketakutan pernah hinggap padamu tetapi restu adalah kekuatanmu. Mulia sekali kamu, Bey.
Hari ini, kamu dan Mas sudah sah sebagai suami-istri. Perjalanan masih panjang, katamu, kamu dan Mas masih akan sangat banyak belajar untuk mewujudkan cita-cita sehidup sesurga. Aku teringat tulisan yang baru kubaca, bahwa pernikahan bukan hanya sekedar mengenal tetapi penerimaan harus hadir setelahnya. Rasanya terlalu egois memang jika meminta diriku yang sekarang diterima. Tetap saja ada keinginan, jika memang masih diberi kesempatan, semoga aku memiliki keyakinan yang sama denganmu.
Selamat Bey, selamat menempuh hidup baru! Semoga selalu diliputi keberkahan 😊

Advertisements

2 thoughts on “Restu

  1. Temen2ku galau semua kayanya hahaha…yang ini selalu bertanya2 kapan giliran mendapat jodoh untuk ke tingkat serius eh temen yang satunya udah nemuin pasangan masih terhalang restu orang tua hihihi…
    Sabar neng ami, mungkin doanya masih kurang. Tuhan sedang mempersiapkan seorang pria yang pantas untuk menjadi teman sehidup semati ami. Jangan galau2 wae neng, tapi kalau galau nyekripsi boleh lah hahaha

    1. Engga galau da ini sedang berbagi hikmah 😛 supaya tidak mengambil jalan yang kurang tepat, like i did.
      Aamiin semoga yaaa *tetep aja ngarep*
      Ih orang tuanya harus ditatar itu, harusnya mendukung lah 😕
      Skripsi mah dikerjakan biar selesai bukan digalauin haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s