Let’s mo(ca)ving on!

Setelah gagal Ciletuh 1-3 Mei 2015, akhirnya si saya jadi piknik juga di Sukabumi. Gak jauh-jauh dari earth element ala Mak Mun, kali ini giliran Goa Buni Ayu yang dikunjungi. Terima kasih 16 Mei :))

DSC_0520

Goa Buni Ayu terletak di daerah Nyalindung Kabupaten Sukabumi. Lokasi ini bisa ditempuh sekitar satu jam dengan angkutan umum dari rumah saya. Kondisi gerbang pertama lokasi ini kurang terawat, dari sana kita harus berjalan kaki menuju mulut goa melewati hutan pinus. Kalau jalan santai sih waktu tempuhnya sekitar setengah jam.

DSC_0534

Tiba di gerbang kedua sebelum dzuhur, sudah ada bapak-bapak yang menawari untuk caving. Jadi di wana wisata Buni Ayu ini terdapat tiga jenis goa yang bisa dimasuki. Goa minat umum dengan panjang trek 200 meter, minat khusus dengan panjang trek 2,5 km (?) yang dapat ditempuh dalam waktu empat jam, dan goa semi sepanjang 500 meter (ada yang bilang 700 m). Dan pilihan ketiga yang kami pilih untuk jadi medan piknik. Ini dia teman jalan kita : Kamila, Wildan, dan Reni. Let’s moving caving on!

DSC_0549

Sebelum turun ke goa, kami dipinjami perlengkapan  berupa wearpack, head lamp, sepatu boot, dan safety helmet ditambah Kang Iwan sebagai guide. Baik sekali Kang Iwan ini kasih kita bonus masuk goa minat umum. Sebetulnya untuk goa minat umum ini dapat dimasuki tanpa perlengakapan khusus, jalur yang dilewatipun sudah dibuatkan tangga tangga.

DSC_0586

Namun petualangan sesungguhnya (ceileeh~) baru dimulai ketika kita masuk goa semi. Jalan pertama yang kita lewati di goa ini adalah lorong dengan tinggi sekitar satu meter, jadi kita harus jalan berjongkok agar bisa lewat. Tidak jarang juga kita bisa jalan santai biasa, rasanya wow sekali bisa berjalan di bawah tanah dengan pemandangan yang beda dari biasanya. Kebayang gak sih kalau rongga tanah ini amblas? 😮

DSC_0591

Sepanjang perjalanan Kang Iwan bercerita soal stalaktit, penelitian dan lain-lain macam lagi belajar geografi begitulah tapi sayangnya saya sudah lupa lagi (hiks ampuni saya kang). Satu yang paling saya inget, katanya Kang Iwan sih pertumbuhan stalaktit itu hanya 2 mm setahun jadi kudu hati- hati kalau pegang-pegang bisa jadi itu membunuh stalaktit. Wew. Terus Wildan nyeletuk “memangnya kenapa kalau (stalaktit) mati?”. Oh iya ya saya langsung mikir apa pengaruhnya kalau stalaktit ini patah? Ada yang tau? (“Sama kaya hidup lo bro, apa pengaruhnya buat dunia kalo lo mati” gitu si hati ini mulai kontemplasi).

DSC_0594

Entah karena sedang musim hujan tanah di dalam goa pun sering terasa lengket dengan sepatu. Mesti hati-hati karena selain licin kakipun susah melangkah, susah move on (eh!).  Pengalaman seru lainnya adalah ketika kita merasakan gelap abadi. 25 meter (atau 50 meter ya?) dibawah tanah, damai banget mata gak bisa lihat apa-apa ketika penerangan dimatikan Cuma suara aliran air dari sungai bawah tanah yang terdengar. “Kenali bumi sebelum engkau dikebumikan”, begitu kata Kang Iwan.

DSC_0638

Tidak terasa sekitar satu setengah jam di dalam goa, medan sebelum keluar goa inilah yang menurut saya cukup menantang, posisi badan harus benar-benar menyatu dengan tanah saking sempitnya rongga dengan posisi hampir vertikal. Hati-hati punggung, lumayan sakit broh kalau punggung gak sengaja kena langit-langit goa. Dan akhirnya kembali ke peradaban 😀

DSC_0639

Pukul tiga kurang di luar goa sudah ada teman Wildan yang kita tunggu dari tadi siang, adalah Fauzi dan Farida. Saya belum bilang kan ya, di sekitar goa ada tempat kemah boleh lah kapan-kapan kita kemping sambil coba goa minat khusus. Rencana selanjutnya sih kami mau sekalian saja ke curug (air terjun) yang tidak jauh dari situ, Curug Bibijilan. Kembali berjalan kaki ke gerbang pertama Goa Buni Ayu kemudian motoran ke curug, hujan mulai turun ketika kita sampai di hutan pinus sekitaran curug. Niatnya sih disini kami mau piknik ceria dan numpang shalat, ada batu lebar yang bisa dipakai.

hampura gak ada foto Uji yang gak ngeblur :|
hampura gak ada foto Uji yang gak ngeblur 😐

Air curug lumayan deras jadi kita hanya bisa bermain-main di pinggir saja. Padahal kalau airnya sedang kering kita bisa turun sampai curug ke tujuh katanya. Saya pernah tuh waktu muda(h) kesini airnya surut jadi bisa turun entah sampai curug ke berapa.

905803_852880374791883_7778690941850339500_o

Hari mulai magrib ketika kami selesai makan, sudah waktunya pulang. Terima kasih kalian sudah berbahagia bersama walaupun ada pertanyaan “ini kenalnya gimana?” 😀 oh iya kalau menggunakan angkutan umum kesini mending berangkat pagi, karena malam itu kami hampir tidak tau bagaimana caranya pulang beruntung ada angkot yang bukan jurusan situ lewat dan mau mengangkut kami. Selain itu disini gak ada ATM dan gak terima debit, so prepare uang tunai ya sob.

Sebetulnya besok masih hari minggu hari libur tapi apalah daya saya dan Kamil harus kembali ke Bandung subuh-subuh, belum ada yang menafkahi sih~ “Buat apa sih kita minggu minggu kerja?” “Buat huru hara!”

Advertisements

2 thoughts on “Let’s mo(ca)ving on!

  1. ah amiiii ({})
    nnti kita huru hara lagi ya bersama ica, abang,ozan dan ida..
    trimaksij ami dan semuanya.kmren q merasa senang sekali…
    ini baru namanya main.heee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s