jodoh itu jorok, katanya!

Aku terdiam sejenak mencari tempat duduk, hampir tertinggal bis. Tampak seseorang seperti mempersilakan duduk di kursinya, tapi begitu sadar kursi di samping tempatku berdiri kosong kuabaikan saja. Berteman seorang ibu yang juga kuabaikan di kursi itu, mataku fokus pada televisi bis, Pangeran Biruku sedang bertanding. Sesekali mataku menangkap seseorang yang duduk di depanku, yang seperti menawarkan kursi tadi, tampak tak mau diam, menengok ke kursiku. Dia kenal aku? Siapa? Hanya nama Kak Brian yang aku kira orang itu, tapi bukan!

Tak lama orang itu bergerka pindah ke kursiku, kursi tiga jok yang baru diisi aku dan seorang ibu, tapi sebelum orang itu duduk aku memutuskan pindah ke kursi depanku, bekas tempat duduknya. Oh mungkin ibu yang sebangku denganku tadi itu orang tuanya, begitu kesimpulanku.

Ketika di bangku itu hanya tersisa aku, tempat di pojok dekat kaca jadi pilihan mengingat aku sering tertidur di bis, aku butuh sandaran. Beberapa saat kemudian aku barau tahu kalau orang tadi sudah sebangku denganku. Yasudah abaikan.

Kudengar orang itu bicara, aku masih tak peduli tapi kemudian terjadi basa-basi biasa di bis, “pulang kemana?” “di Bandung kuliah?” dan lainnya yang kujawab seperlunya. Orang itu menyodorkan handphonenya padaku. “maaf sebelumnya. gak tau kenapa kenapa saya ingin kenal kamu kalau boleh”. Hah, rasa tak nyaman meningkat.

“ ada yang marah gak?” aku mulai tak mengerti apa yang orang itu bicarakan, bikin malas saja.

“sudah berkeluarga?”

“belum”

“punya pacar?”

“nggak”

“sudah ada calon?”

“nggak”

“maaf sebelumnya mungkin kamu kaget tapi saya juga gak ngerti kenapa begini, tadi pertama lihat tiba-tiba terasa “deg”, jadi pengen kenal”

Aku diam, bingung. Cuma bisa senyum. Pahit.

“kalau pepatah orang tua bilang jodoh itu jorok. Gak kenal kapan dimana siapa. Dan mungkin sekarang buat saya juga.”

Semakin bingung.

“saya niatnya gak main-main buat apa kalau cuma main-main baru ketemu udah gini”

Apa sih.

“kalau hati kamu ragu, itu dari setan. Soalnya ini niatnya baik, kalau mau nikah juga hayu”

“saya belum kepikiran itu”

“yasudah kita jalani dulu proses kesananya itu, yuk bismillah bareng-bareng, diniatkan”

Aku diam, bismillah aja sendiri, kataku dalam hati. Merasa lucu dengan tingkah orang itu.

“yuk bismillah bareng-bareng”

Aku bingung, terganggu. “yaudalah jangan terlalu serius. Anggap aja temen di bis seperjalanan”

“sebentar lagi saya mau turun, sekarang ini menentukan kedepannya gimana loh, kalau gak mau yaa gak apa-apa tapi saya gak mau pertemuan kita cuma sampai disini. Yuk bismillah bareng-bareng, kita komitmen”

Aku kesal.

“mau kasih saya kesempatan?”

Diam. Lucu. Bingung. Kesal.

“nggak deh”

“semoga itu keputusan terbaik buat kamu,” katanya kemudian turun dari bis.

Tadi aku merasa biasa saja perlahan takut menyerang. Entah takut apa. Takut pulang tinggal nama. Bisa jadi. Aku pindah ke bangku paling depan. Malah sempat mengirim pesan singkat pada kawanku yang kebetulan sedang bertanya kabar “Dra tolong”. Pasti kawanku ini bingung. Maafkan. Ketakutan makin menjadi. Air mata mendesak minta dibuang. Tolong.

Alhamdulillah selamat sampai rumah. Salah satu realita hidup yang lebih sinetron dari sinetron kualami lagi. Anggap saja bunga mimpi di bis walaupun aku tak tidur. Ah tapi terima kasih orang asing, dari kejadian aku belajar untuk tidak naik bis ekonomi lagi. Hubungannya dimana? Entah.

Mungkin memang salah tidak punya visi tentang pasangan hidup. Cerita semacam ini bisa jadi tidak terjadi kalau kujawab “sudah” ketika ditanya “sudah punya calon?” 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s